TULUNGAGUNG – Julukan “Kota Seribu Warung Kopi” bagi Kabupaten Tulungagung tampaknya bukan sekadar isapan jempol. Memasuki pertengahan tahun 2026, pertumbuhan warung kopi (warkop) maupun kafe kekinian di wilayah ini semakin masif, mengubah wajah kota menjadi pusat interaksi sosial yang tidak pernah tidur. Terjadi lonjakan signifikan jumlah warung kopi, mulai dari warkop tradisional “ijo” yang legendaris, kedai kopi stasiun, hingga kafe modern berkonsep Work From Cafe (WFC) dan aesthetic. Fenomena ini tidak hanya sekadar tren kuliner, melainkan telah bertransformasi menjadi gaya hidup wajib dan penggerak ekonomi kerakyatan di Tulungagung. Fenomena ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Pelakunya mulai dari pelaku UMKM lokal yang memanfaatkan teras rumah, hingga investor kafe franchise. Pengunjungnya pun beragam, mulai dari petani yang melepas penat, ASN, mahasiswa yang mengerjakan tugas, hingga komunitas kreatif yang menjadikan warkop sebagai markas diskusi ide. Di mana lokasinya?Pertumbuhan ini merata di seluruh penjuru Tulungagung. Tidak hanya terpusat di area perkotaan seperti sekitar Alun-alun, Jalan KH Agus Salim, dan wilayah Kenayan, namun juga merambah ke wilayah kecamatan seperti Ngunut, Kedungwaru, hingga wilayah perbukitan seperti Sendang dan Pagerwojo yang menawarkan view alam. Eskalasi jumlah warkop ini terpantau meningkat tajam dalam dua tahun terakhir (2024–2026). Aktivitas di titik-titik ngopi ini berlangsung hampir 24 jam, dengan puncak keramaian terjadi pada sore hingga dini hari, terutama saat akhir pekan atau momen libur nasional. Mengapa fenomena ini terjadi?Beberapa faktor utama yang melatarbelakangi adalah: Budaya Lokal: Ngopi sudah menjadi “ritual” sosial warga Tulungagung untuk bertukar informasi (pusat literasi lisan). Harga Terjangkau: Dibandingkan kota besar, harga kopi di Tulungagung sangat ramah di kantong, mulai dari Rp5.000 hingga Rp20.000. Ketersediaan Bahan Baku: Dukungan kopi lokal dari pegunungan Wilis dan sekitarnya memudahkan pasokan bahan baku berkualitas. Kebutuhan Ruang Ketiga: Warkop dianggap sebagai “rumah kedua” yang lebih nyaman untuk bersosialisasi dibandingkan ruang tamu rumah sendiri. Bagaimana dampaknya?Secara ekonomi, maraknya warkop ini menghidupkan sektor UMKM pendamping, seperti produsen camilan, gorengan, dan jasa parkir. Secara sosial, warkop menjadi sarana demokratisasi komunikasi di mana sekat kelas sosial melebur dalam satu meja. Pemkab Tulungagung pun mulai melirik potensi ini sebagai daya tarik wisata kuliner yang dapat mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Penulis: Tim Redaksi Kabar BrantasEditor: Kabar Brantas